JEJAK ANUGERAH : DARI PULAU PAHEPA : KE TANAH PENGABDIAN
Setiap langkah dalam perjalanan hidup seorang pelayan Tuhan bukanlah kebetulan, melainkan goresan kasih karunia yang ditulis oleh tangan-Nya sendiri. Dari lembah sunyi Pulau Pahepa hingga tanah pengabdian yang baru, setiap peristiwa menjadi jejak anugerah yang meneguhkan bahwa panggilan bukan sekadar tugas, melainkan perjalanan iman yang penuh mujizat, air mata, dan sukacita. Dalam setiap penempatan, setiap mutasi, bahkan setiap pergantian musim pelayanan, saya melihat tangan Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib — menuntun, membentuk, dan meneguhkan panggilan untuk tetap setia melayani Dia yang telah lebih dahulu mengasihi saya.
Menapaki Panggilan: Jejak Pelayanan
(2004–2025)
“Sebab
kami adalah ciptaan-Nya, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan
pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kami hidup
di dalamnya.” (Efesus 2:10)
Langkah Awal Panggilan (2004–2007)
Tahun
2004 menjadi awal dari perjalanan pelayanan yang penuh anugerah dalam hidup
saya. Saat itu, melalui keputusan pimpinan Gereja GMIST, khususnya Resort Siau
Timur, saya diutus sebagai tenaga Vikariat di Jemaat Hagetter Pahepa.
Langkah
pertama itu terasa sederhana, namun di sanalah Tuhan mulai meneguhkan
panggilan-Nya dalam hidup saya — bahwa hidup ini akan dipersembahkan sepenuhnya
bagi pelayanan Kristus dan umat-Nya.
Di
tengah pelayanan yang sederhana di Pahepa, saya belajar arti pengabdian,
ketulusan, dan kerendahan hati. Dalam setiap ibadah rumah tangga, kunjungan
doa, dan pergumulan jemaat, saya menyadari bahwa Tuhan sedang membentuk saya
melalui pengalaman nyata di ladang pelayanan.
Tiga
tahun kemudian, tepatnya tahun 2007, buah kesetiaan itu dinyatakan. Saya diteguhkan
sebagai Pendeta oleh Sinode GMIST, sebuah tonggak penting dalam perjalanan iman
saya. Pada tahun yang sama, saya juga ditetapkan melalui SK Sinode sebagai Pendeta
Pelayanan yang mencakup beberapa jemaat: Hagetter Pahepa, Petra Maniuba, Ikhtus
Tapile, dan Filadelfia Kuluhe. Masa pelayanan ini berlangsung hingga tahun
2012.
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah
yang memilih kamu dan menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan
buah.”
(Yohanes
15:16)
Langkah Keluarga dan Berkat di Tengah
Kesetiaan (2010–2012)
Dalam
rentang pelayanan ini, tahun 2010 menjadi momen penting bagi keluarga kami.
Istri saya mengikuti tes CPNS dan diterima sebagai guru di SMP Negeri 2
Sitimsel, dengan TMT 2011.
Peristiwa
ini menjadi berkat besar bagi keluarga kami, karena Tuhan menempatkan kami di
tempat yang tenang, jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk dunia. Di sana kami
belajar menikmati ketenangan dan kesederhanaan sebagai anugerah, tempat kami
bertumbuh dalam kasih dan kesetiaan.
Pelayanan dan Kepemimpinan Baru
(2012–2017)
Tahun 2012 menjadi
babak baru ketika saya dimutasikan ke Jemaat GMIST Batukarang Buhias. Di sana
saya mendapat kepercayaan sebagai Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat pertama
yang seorang Pendeta, sebab sebelumnya jabatan itu diemban oleh seorang
Penatua. Bagi saya, ini bukan sekadar perubahan struktur gereja, melainkan
bentuk tanggung jawab baru yang Tuhan percayakan.
Pada
waktu yang sama, saya juga melayani di Jemaat Immanuel Bunakeng sebagai Pendeta
Pelayanan.
“Setiap
orang yang melayani, hendaklah ia melayani dengan kekuatan yang dianugerahkan
Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu.” (1 Petrus 4:11)
Dari Siau ke Boltim: Memimpin dengan Hati
(2017–2024)
Pada
tahun 2017, saya dimutasikan ke GMIST Jemaat Sarfat Dodap sebagai Pendeta
Jemaat, sambil tetap melayani di Jemaat Karangetang Motongkad Selatan (Boltim)
sebagai Pendeta Pelayanan.
Pelayanan
lintas wilayah ini menjadi pengalaman berharga. Saya belajar bahwa panggilan
Tuhan tidak dibatasi oleh jarak atau tempat, tetapi diukur dari kerelaan hati
untuk taat kepada-Nya.
Lima
tahun kemudian, tahun 2022, Sinode GMIST
mengeluarkan SK penetapan saya sebagai Ketua Majelis Pekerja Jemaat di Sarfat
Dodap, sekaligus Pendeta Pelayanan di Karangetang
Motongkad Selatan**. Dalam pelayanan itu, saya terus berusaha menanamkan
semangat melayani dengan kasih — bukan karena jabatan, melainkan karena
panggilan Kristus.
“Dan
apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk
Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)
Pada
tahun 2024, saya kembali menerima penugasan baru sebagai Ketua Majelis Pekerja
Jemaat di GMIST Banalang Duata, Labuan Uki (Resort Bitung).
Setiap
perpindahan saya yakini sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk memperluas
ladang pelayanan, agar terang Kristus terus dibawa ke tempat yang berbeda-beda.
Panggilan Baru di Tanah Pengabdian
(2025)
Tahun 2025 menjadi tahun yang sangat bersejarah
dalam hidup saya. Pada 26 Mei 2025, saya dilantik sebagai ASN di lingkungan
Kementerian Agama Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, sebagai Penyuluh Agama
Kristen.
Saya
memandang ini bukan hanya sebagai pekerjaan, tetapi sebagai bentuk perluasan
pelayanan Tuhan di tengah masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam
rencana yang telah ditetapkan, pada 5 Desember 2025, Sinode GMIST akan mencabut
SK Pegawai Organik dalam jabatan struktural saya, dan kemudian menetapkan saya
sebagai Pendeta Pegawai Non Organik di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten
Bolaang Mongondow Timur.
Dengan
demikian, panggilan saya untuk melayani tetap berlanjut — dalam bentuk yang
baru, namun dengan semangat dan kasih yang sama kepada Kristus.
“Setia
sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu
2:10b)
Penutup:
Sebuah Panggilan yang Terus Hidup
Perjalanan
dari Pahepa hingga Boltim, dari Vikariat
sederhana hingga ASN Penyuluh Agama, telah mengajarkan saya bahwa Tuhan setia
memimpin setiap langkah yang dijalani dengan iman dan ketulusan hati.
Kisah
ini bukan hanya catatan perjalanan hidup, tetapi juga kesaksian bahwa ketika
seseorang menyerahkan hidupnya bagi Kristus, maka Tuhan sendirilah yang menulis
jalan hidupnya dengan tinta kasih dan anugerah-Nya.
“Langkah orang yang benar ditetapkan oleh
TUHAN, dan Ia berkenan akan perjalanannya.”
(Mazmur 37:23)
Komentar
Posting Komentar