KASIH YANG TULUS, BUKAN PURA-PURA (ROMA 12:9)
Khotbah dari Roma 12:9 yang mengingatkan kita bahwa kasih sejati tidak boleh pura-pura. Kasih yang tulus ditandai dengan menjauhi kejahatan dan giat melakukan kebaikan. Hanya kasih Kristus yang dapat menolong kita untuk hidup dalam ketulusan.
Syalom, saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Firman Tuhan hari ini diambil dari Roma 12:9 yang berkata: “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.”
Ayat ini terlihat singkat, namun sesungguhnya sangat dalam. Rasul
Paulus sedang mengingatkan jemaat di Roma tentang bagaimana seharusnya orang
Kristen hidup. Intinya jelas: kasih harus tulus, bukan pura-pura. Dan kasih
yang tulus itu ditandai dengan menjauhi kejahatan dan melakukan kebaikan.
1. Kasih yang Tulus, Bukan Pura-Pura
Kita hidup di zaman di mana banyak hal bisa dibuat “seolah-olah”.
Orang bisa tersenyum manis, padahal di hatinya menyimpan kebencian. Orang bisa
berkata, “Saya mengasihi kamu,” tapi tindakannya justru menyakiti. Itulah yang
Paulus maksud dengan kasih yang pura-pura.
Tetapi kasih yang sejati, kasih yang lahir dari Kristus, bukan
sekadar kata-kata. Kasih itu nyata dalam sikap, dalam tindakan, dan dalam
kerendahan hati. Kasih yang tulus tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak
memperalat orang lain, dan tidak menuntut balasan.
Yesus adalah teladan kasih yang paling murni. Ia mengasihi bukan
karena orang banyak itu baik, melainkan karena kasih itu memang keluar dari
hati-Nya. Bahkan ketika digantung di kayu salib, Ia masih berkata, “Ya Bapa,
ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Itulah kasih
yang sejati—kasih yang tulus.
2. Kasih yang Menjauhi yang Jahat
Paulus menambahkan: *“Jauhilah yang jahat.”* Mengapa? Karena kasih
yang tulus tidak bisa berjalan beriringan dengan kejahatan. Kita tidak mungkin
mengaku mengasihi, tetapi masih memelihara kebencian, dendam, iri hati, atau
kepahitan.
Seringkali, kejahatan itu tidak datang dalam bentuk yang besar dan
mencolok. Bisa saja ia masuk dalam pikiran kecil kita: rasa tidak suka pada
orang lain, ingin melihat orang lain jatuh, atau menutup mata terhadap
kesusahan sesama. Tetapi Paulus menegaskan: jauhilah itu semua. Kasih sejati
menolak kejahatan, walau sekecil apapun bentuknya.
3. Kasih yang Melakukan yang Baik
Kasih sejati bukan hanya menjauh dari kejahatan, tetapi juga aktif
melakukan yang baik. Artinya, kasih itu bergerak, kasih itu bertindak. Bukan
hanya tidak menyakiti, tetapi juga menghadirkan kebaikan.
Melakukan yang baik kadang sederhana: menghibur orang yang sedang
susah, menolong orang yang membutuhkan, mengucapkan kata yang membangun, atau
bahkan sekadar mendoakan dengan tulus. Namun di mata Tuhan, itulah wujud kasih
yang sejati.
Dalam Galatia 6:9 Paulus berkata, *“Janganlah kita jemu-jemu
berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita
tidak menjadi lemah.”* Artinya, kebaikan yang lahir dari kasih tidak pernah
sia-sia. Walau mungkin tidak langsung mendapat balasan, tetapi Tuhan melihat
dan menghargainya.
4. Mengapa Kasih Itu Penting?
Kasih yang tulus adalah dasar dari kehidupan Kristen. Yesus
sendiri berkata, *“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”* (Matius 7:16).
Dunia tidak mengenal kita dari banyaknya pengetahuan Alkitab kita, atau dari
besar kecilnya pelayanan kita, melainkan dari kasih kita yang nyata.
Kasih adalah tanda bahwa kita sungguh-sungguh milik Kristus. Tanpa
kasih, semua pelayanan hanyalah hampa. Tanpa kasih, semua doa hanyalah
rutinitas. Tanpa kasih, semua pengorbanan tidak ada artinya. Itulah sebabnya
Paulus berkata dalam 1 Korintus 13, “Sekalipun aku membagi-bagikan segala
sesuatu yang ada padaku… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun
tidak ada faedahnya.”
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, melalui Roma 12:9 ini kita
diajak untuk merenung: apakah kasih kita selama ini tulus atau hanya pura-pura?
Apakah kita masih menyimpan kejahatan kecil di hati, atau sudah sungguh-sungguh
menjauhinya? Apakah kita sudah aktif melakukan yang baik, atau masih sibuk
dengan diri sendiri?
Marilah kita belajar dari Yesus, Sang Kasih Sejati. Biarlah kasih
kita nyata, sederhana, tapi tulus. Mari kita jauhi segala bentuk kejahatan dan
terus melakukan yang baik, sebab itulah yang berkenan di hadapan Tuhan.
Kiranya Tuhan Yesus menolong kita semua untuk hidup dengan kasih
yang murni, yang bukan pura-pura, melainkan kasih yang datang dari hati yang
sudah disentuh oleh kasih Kristus. Amin.
Komentar
Posting Komentar