PESAN TEOLOGI DARI ROMA 13:1–7

 

PESAN TEOLOGI DARI ROMA 13:1–7

Roma 13:1–7 adalah salah satu teks yang paling sering diperdebatkan dalam diskusi mengenai hubungan gereja dengan negara. Paulus menegaskan bahwa setiap orang harus takluk kepada pemerintah karena semua pemerintahan berasal dari Allah. Namun, penafsiran teks ini harus hati-hati, sebab dapat disalahgunakan untuk melegitimasi kekuasaan yang otoriter.

Berikut beberapa penjelasan:

1. Allah sebagai sumber otoritas pemerintahan

Paulus membuka dengan pernyataan:  “tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah” (Rm. 13:1). Dalam kerangka teologi Paulus, Allah adalah penguasa sejarah. Karl Barth menekankan bahwa otoritas pemerintah hanyalah “otoritas yang dipinjam,” karena Allah yang sejati tetap Raja atas dunia.1  Dengan demikian, pemerintahan tidak berdiri independen, tetapi berada di bawah kedaulatan Allah.

2. Pemerintah sebagai “hamba Allah”

Paulus menyebut pemerintah sebagai *diakonos tou Theou* (pelayan  dari Allah) dalam ayat 4. Istilah ini juga digunakan Paulus untuk pelayan gereja. C.E.B. Cranfield menjelaskan bahwa fungsi pemerintah terutama menjaga ketertiban dan melindungi warga dari kejahatan.2 Maka, teologi Paulus tidak memberi pemerintah kuasa mutlak, melainkan mandat pelayanan demi kebaikan bersama.

3. Dimensi etis: ketaatan karena hati nurani

Paulus menekankan bahwa ketaatan bukan semata karena takut hukuman, tetapi karena hati nurani (Rm. 13:5). Hati nurani dalam pemahaman Paulus dibentuk oleh Roh Kudus (bdk. Rm. 9:1). Artinya, ketaatan kepada pemerintah tidak boleh bersifat buta, melainkan reflektif dan spiritual.

4. Kewajiban sosial: pajak dan hormat

Ayat 6–7 menunjukkan bentuk konkret dukungan warga Kristen, yaitu membayar pajak dan memberi hormat. James D.G. Dunn menyebut hal ini sebagai ekspresi nyata iman Kristen dalam kehidupan publik.3  Bagi Paulus, iman tidak berhenti pada pengakuan rohani, tetapi diwujudkan dalam tanggung jawab sosial.

5. Batas ketaatan: Allah di atas negara

Walaupun Paulus menekankan ketaatan, teks ini harus dibaca bersama dengan prinsip Kisah Para Rasul 5:29: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.” John Stott menegaskan bahwa Roma 13 bukan “cek kosong” bagi pemerintah untuk melakukan apa saja, melainkan menegaskan fungsi idealnya sebagai hamba Allah.4  Bila pemerintah bertindak melawan kehendak Allah, gereja memiliki tanggung jawab profetis untuk menegur, bahkan menolak.

6. Relevansi bagi konteks masa kini

Dalam konteks demokrasi modern, pesan Roma 13 mengingatkan gereja untuk:

1. Menjadi warga negara yang baik– taat hukum, membayar pajak, dan menghormati pemimpin.

2. Kritis dan profetis – tidak membiarkan pemerintah menyalahgunakan kuasa.

3. Berpartisipasi aktif– membangun masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera sebagai wujud panggilan iman.

 

Penutup

Roma 13:1–7 menampilkan teologi keseimbangan: pemerintah adalah hamba Allah yang ditetapkan untuk kebaikan, sementara orang percaya dipanggil untuk taat dengan hati nurani yang benar. Namun, ketaatan itu bukan absolut, sebab Allah tetap otoritas tertinggi. Gereja di sepanjang zaman dipanggil untuk menghidupi ketegangan ini: taat sekaligus kritis, mendukung sekaligus mengingatkan, sehingga kesaksian iman tetap nyata di tengah masyarakat.

 

 

 

 Catatan Kaki

1. Karl Barth, *The Epistle to the Romans*, trans. Edwyn C. Hoskyns (London: Oxford University Press, 1933), 484.

2. C.E.B. Cranfield, *Romans: A Shorter Commentary* (Grand Rapids: Eerdmans, 1985), 321.

3. James D.G. Dunn, *Romans 9–16* (Dallas: Word Biblical Commentary, 1988), 764.

4. John Stott, *The Message of Romans* (Leicester: InterVarsity Press, 1994), 339.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup

Khotbah Ulang Tahun Singkat untuk Orang Dewasa: Menghitung Hari dengan Bijaksana (Mazmur 90:12)"

JEJAK ANUGERAH : DARI PULAU PAHEPA : KE TANAH PENGABDIAN