PEKERJAAN YANG TIDAK SIA-SIA DI HADAPAN ALLAH

 

Mazmur 90 adalah doa Musa, abdi Allah, yang menekankan kefanaan manusia dan kebesaran Allah yang kekal. Di tengah singkatnya umur manusia, Musa berdoa agar hidup umat Tuhan tidak sia-sia, melainkan diteguhkan oleh kasih setia Allah. Ayat 17 khususnya menjadi permohonan agar setiap pekerjaan dan jerih lelah manusia memperoleh arti dalam terang kekekalan: “Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami teguhkanlah itu.”

Melalui ayat ini kita diingatkan bahwa tanpa kemurahan Tuhan, segala usaha manusia adalah sia-sia. Tetapi jika diteguhkan oleh Allah, maka pekerjaan sekecil apapun akan menjadi berkat dan memiliki nilai kekal.


“Teguhkanlah Pekerjaan Tangan Kami” (Mazmur 90:17)

Sebagai pendahuluan

Mazmur 90 adalah doa Musa, abdi Allah, yang mengandung perenungan mendalam tentang kefanaan manusia dan kebesaran Tuhan. Dalam ayat 17 kita menemukan permohonan yang indah:

“Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami teguhkanlah itu.”

Doa ini bukan sekadar permintaan supaya hidup manusia panjang, atau pekerjaan manusia berhasil secara duniawi, tetapi lebih daripada itu: supaya karya hidup kita berakar dalam kemurahan Allah dan mendapatkan makna kekal.

1. Kemurahan Tuhan sebagai dasar hidup dan kerja.

Musa memulai doanya dengan mengakui bahwa hidup manusia singkat dan rapuh. Hidup kita di dunia ini ibarat rumput yang pagi tumbuh hijau, sore layu dan mati. Karena itu, Musa tidak meminta sekadar umur panjang, tetapi ia memohon supaya dalam singkatnya hidup, kemurahan Tuhan menyertai umat-Nya.

Tanpa kemurahan Allah, segala usaha manusia hanyalah jerih lelah yang sia-sia. Kemurahan Tuhan adalah kasih setia yang menopang, yang membuat kita kuat berdiri, bahkan di tengah kelemahan kita. Kita bekerja, melayani, dan berusaha bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dalam naungan anugerah Tuhan.

Maka, setiap langkah, setiap rencana, setiap usaha hendaknya dimulai dengan kesadaran bahwa kita hanya bisa berhasil jika kemurahan Allah yang bekerja dalam kita. Inilah fondasi dari doa Musa.

2. Tuhan yang meneguhkan perbuatan tangan kita.

Kalimat “teguhkanlah perbuatan tangan kami” menunjukkan bahwa pekerjaan manusia bisa rapuh, bisa goyah, bisa gagal. Ada usaha yang hanya sebentar saja bertahan, lalu hilang tanpa bekas. Tetapi Musa berdoa agar apa yang dilakukan dengan tangan manusia itu diteguhkan oleh Tuhan, sehingga tidak hanya bertahan, tetapi juga berarti dalam terang kekekalan.

“Teguhkanlah” berarti menguatkan, menegakkan, dan memberi daya tahan. Tuhanlah yang mampu memberi arti pada setiap jerih payah kita. Paulus menggemakan hal ini dalam 1 Korintus 15:58: “Kerja kerasmu tidak sia-sia di dalam Tuhan.”

Dengan kata lain, bukan semua pekerjaan manusia otomatis diteguhkan Tuhan, tetapi pekerjaan yang dilakukan dalam iman, ketaatan, dan keselarasan dengan kehendak-Nya. Itulah yang diberi bobot kekal.

3. Pekerjaan tangan yang berkenan di hadapan Allah

Ayat ini menantang kita untuk merenungkan: pekerjaan tangan seperti apa yang akan diteguhkan Tuhan?

Pekerjaan yang dilandasi iman. Tanpa iman, segala sesuatu tidak berkenan kepada Allah. Bahkan aktivitas rohani sekalipun akan kosong jika hanya demi kepentingan diri.

Pekerjaan yang memuliakan Allah.  Segala sesuatu yang kita lakukan hendaknya diarahkan untuk kemuliaan Allah, bukan sekadar untuk pujian manusia.

Pekerjaan yang membawa berkat bagi sesama. Tuhan meneguhkan pekerjaan yang menjadi saluran kasih dan keadilan-Nya di tengah dunia. Ketika kita bekerja dengan jujur, melayani dengan tulus, dan mengulurkan tangan bagi mereka yang lemah, maka pekerjaan itu tidak sia-sia.

Jika demikian, maka setiap aspek hidup kita — baik dalam pelayanan, pekerjaan kantor, usaha, bahkan dalam keluarga — dapat menjadi “perbuatan tangan” yang diteguhkan oleh Tuhan.

4. Hidup yang bermakna dalam terang kekekalan

Mazmur 90 secara keseluruhan menekankan bahwa umur manusia singkat. Tetapi justru karena singkat, Musa meminta supaya hari-hari yang ada dipenuhi dengan arti. Bukan panjangnya waktu yang penting, melainkan kualitasnya di hadapan Allah.

Kita bisa saja memiliki prestasi besar di dunia, tetapi jika tidak diteguhkan Tuhan, semua itu akan hilang seperti debu. Namun, sekalipun sederhana, ketika kita bekerja dengan iman dan kasih, Tuhan dapat memakai hal itu untuk maksud kekal.

Dengan demikian, doa “teguhkanlah perbuatan tangan kami” menjadi doa setiap orang percaya agar hidupnya tidak sia-sia, melainkan berdampak bagi sesama dan mulia bagi Allah.

Penutup: Aplikasi untuk kita

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita membawa doa Musa ini dalam hidup kita sehari-hari.

1. Mulailah setiap pekerjaan dengan menyadari bahwa kita butuh kemurahan Tuhan.  Tanpa Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa.

2.  Persembahkan segala usaha kita bagi kemuliaan Tuhan.  Jangan mencari kepuasan diri semata.

3.  Percayalah bahwa Tuhan sanggup meneguhkan pekerjaan kita. Mungkin tampak kecil, mungkin tidak terlihat besar di mata dunia, tetapi jika dilakukan dengan iman dan kasih, Tuhan akan memakainya.

Kiranya doa Musa juga menjadi doa kita: “Tuhan, teguhkanlah perbuatan tangan kami.” Dengan demikian, hidup kita yang singkat ini akan bernilai kekal dan menyenangkan hati Allah.

Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup

Khotbah Ulang Tahun Singkat untuk Orang Dewasa: Menghitung Hari dengan Bijaksana (Mazmur 90:12)"

JEJAK ANUGERAH : DARI PULAU PAHEPA : KE TANAH PENGABDIAN