SEGALA SESUATU ADALAH DARI ALLAH, OLEH ALLAH, DAN KEPADA ALLAH
Khotbah singkat ini diambil dari Roma 11:36 yang menegaskan bahwa seluruh kehidupan manusia bersumber dari Allah, berlangsung di bawah penyertaan-Nya, dan akhirnya kembali untuk kemuliaan-Nya. Melalui firman ini, kita diajak untuk hidup dalam kesadaran penuh bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan Tuhan, dan kita dipanggil untuk menggunakannya demi kemuliaan-Nya.
Saudara-saudara
yang dikasihi Tuhan,
Ayat
ini merupakan penutup dari sebuah renungan yang mendalam oleh Rasul Paulus
tentang karya keselamatan Allah bagi bangsa Israel maupun bangsa-bangsa lain.
Paulus menutup pasal 11 ini dengan sebuah doxologi, sebuah pujian yang agung,
yang menegaskan bahwa seluruh ciptaan dan sejarah berada dalam genggaman Allah.
Kata-kata Paulus ini bukan hanya teologi yang tinggi, tetapi juga dasar praktis
bagi kehidupan orang percaya: segala sesuatu berasal dari Allah, berlangsung
melalui Allah, dan kembali untuk kemuliaan Allah.
1.
Segala Sesuatu Berasal dari Allah
Hidup
kita, talenta kita, bahkan nafas yang kita hirup setiap hari adalah pemberian
Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa membanggakan dirinya seakan-akan ia
memiliki segala sesuatu karena usahanya semata. Paulus mengingatkan bahwa
sumber utama dari semua yang kita miliki adalah kasih karunia Allah.
Maka,
jika segala sesuatu berasal dari Allah, kita diajak untuk bersyukur. Bersyukur
bukan hanya ketika kita menerima berkat yang melimpah, tetapi juga ketika kita
menjalani masa-masa sulit, karena kita percaya bahwa segala sesuatu berada di
bawah kendali-Nya.
2.
Segala Sesuatu Berlaku oleh Allah
Ayat
ini juga menyatakan bahwa segala sesuatu bukan hanya berasal dari Allah, tetapi
juga berlangsung oleh Allah. Artinya, keberlangsungan hidup kita ada dalam
pemeliharaan dan penyertaan Allah. Kita bisa bekerja, melayani, bahkan bernapas
setiap hari hanya karena Tuhan memelihara kita.
Hal
ini mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat menjalani hidup dengan kekuatan
sendiri. Kita membutuhkan pertolongan Tuhan dalam setiap langkah. Sebagai orang
percaya, kita diajak untuk terus mengandalkan Allah, sebab tanpa Dia kita tidak
bisa berbuat apa-apa (Yohanes 15:5).
3.
Segala Sesuatu Kembali kepada Allah
Tujuan
akhir dari segala sesuatu adalah kemuliaan Allah. Hidup orang percaya bukan
hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menyatakan kasih dan kuasa
Allah di tengah dunia. Inilah panggilan kita: hidup kita harus menjadi cermin
yang memantulkan kemuliaan Tuhan.
Sering
kali manusia terjebak dalam pencarian kehormatan diri, popularitas, atau
kepuasan duniawi. Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa semua yang kita miliki
dan lakukan seharusnya diarahkan kembali kepada Allah. Bahkan pelayanan kita,
pekerjaan kita, dan keluarga kita haruslah menjadi sarana untuk memuliakan Dia.
4.
Hidup yang Berpusat pada Allah
Jika
segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah, dan kepada Allah, maka hidup kita
seharusnya berpusat pada Allah. Kita tidak lagi menjadikan diri sendiri sebagai
pusat, melainkan Allah. Inilah yang membedakan hidup orang percaya: setiap
langkah, keputusan, dan tindakan diarahkan untuk menyenangkan hati Tuhan.
Ketika
kita menyadari hal ini, maka kita tidak akan mudah sombong atas keberhasilan,
sebab kita tahu semuanya berasal dari Tuhan. Kita juga tidak mudah putus asa
dalam kegagalan, sebab kita tahu hidup kita tetap ada dalam kendali-Nya. Hidup
berpusat pada Allah menolong kita untuk tetap rendah hati, setia, dan tekun
dalam perjalanan iman.
5. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam
keluarga: Jadikan rumah tangga sebagai tempat memuliakan Tuhan melalui kasih,
pengampunan, dan doa bersama.
Dalam
pekerjaan: Bekerjalah bukan hanya untuk mencari keuntungan, tetapi juga untuk
menjadi berkat bagi orang lain.
Dalam
pelayanan: Lakukan dengan tulus, bukan untuk pujian manusia, melainkan demi
kemuliaan Allah.
Dalam
masyarakat: Hidup rukun, toleran, dan penuh kasih, agar terang Kristus nyata
melalui hidup kita.
Penutup
Saudara-saudara,
Roma 11:36 mengajarkan kita untuk hidup dalam kesadaran penuh akan Allah.
Segala sesuatu berasal dari Dia, berlangsung oleh Dia, dan kembali kepada Dia.
Oleh karena itu, marilah kita mengarahkan seluruh hidup kita hanya untuk
kemuliaan Tuhan. Kiranya hidup kita menjadi pujian yang indah bagi-Nya, sampai
selama-lamanya.
Amin.
Komentar
Posting Komentar