AGAMA DAN KERUKUNAN: KETIKA SUMBER KEDAMAIAN MENJADI PEMICU PERPECAHAN
AGAMA DAN KERUKUNAN: KETIKA SUMBER
KEDAMAIAN MENJADI PEMICU PERPECAHAN
Oleh: Pdt. Gridsen Hendra Horoni,
S.Th.
Abstrak
Tulisan
ini berangkat dari pengamatan bahwa dalam realitas sosial, agama — yang
sejatinya menjadi sumber kedamaian — justru kerap memicu perpecahan dan
konflik. Fenomena tersebut menuntut refleksi kritis terhadap bagaimana agama
dipahami dan dihidupi oleh pemeluknya. Artikel ini menegaskan bahwa akar
persoalan bukan terletak pada ajaran agama itu sendiri, melainkan pada cara
manusia memanipulasi agama untuk kepentingan kelompok. Dengan demikian,
dibutuhkan pendekatan baru dalam beragama: dari eksklusif menuju inklusif, dari
ritual menuju spiritualitas, dan dari doktrin menuju dialog.
Pendahuluan
Agama
pada hakikatnya hadir sebagai sarana manusia berjumpa dengan Tuhan dan sesama
dalam kasih serta kedamaian. Setiap agama mengajarkan moral universal: kasih,
keadilan, kejujuran, dan penghormatan terhadap kehidupan. Namun realitas sosial
sering menunjukkan hal yang berlawanan: agama menjadi sumber ketegangan, bahkan
kekerasan.
Fenomena ini terlihat baik
di tingkat global maupun nasional. Konflik lintas agama, ujaran kebencian
bernuansa teologis, hingga diskriminasi terhadap kelompok minoritas menjadi
bukti bahwa nilai-nilai spiritual agama seringkali gagal diwujudkan dalam
praksis sosial. Di sinilah muncul pertanyaan kritis: mengapa sesuatu yang
dimaksudkan membawa damai justru melahirkan perpecahan?
Agama dalam Tegangan antara Ideal dan Realitas
Dalam
tataran ideal, agama adalah sumber nilai yang mempersatukan. Namun dalam
realitas sosial, agama sering menjadi instrumen ideologis untuk membenarkan
tindakan intoleran. Hal ini sejalan dengan pandangan sosiolog Émile Durkheim
yang menyebut bahwa agama tidak hanya berfungsi spiritual, tetapi juga sosial —
ia membentuk identitas kolektif suatu kelompok.
Masalah muncul ketika
identitas kolektif itu berubah menjadi alat eksklusivitas. Agama lalu
dipersempit menjadi simbol “kami” dan “mereka”. Akibatnya, sesama manusia yang
berbeda keyakinan dipandang sebagai ancaman, bukan sesama ciptaan Tuhan.
Agama dan Kepentingan Sosial-Politik
Banyak
konflik keagamaan sejatinya berakar pada kepentingan sosial, ekonomi, dan
politik, bukan semata perbedaan teologis. Namun karena agama memiliki kekuatan
emosional dan simbolik yang besar, maka ia kerap dijadikan tameng untuk
membenarkan kepentingan tertentu.
Dalam konteks Indonesia,
isu agama seringkali digunakan untuk mobilisasi massa dan pembentukan opini
publik. Di titik ini, agama kehilangan substansi spiritualnya dan berubah
menjadi alat kekuasaan. Ajaran kasih, pengampunan, dan keadilan menjadi kabur
tertutup oleh fanatisme kelompok.
Paradoks Kerukunan Beragama
Kerukunan
beragama tidak dapat diwujudkan hanya melalui seruan normatif atau peraturan
pemerintah. Ia menuntut kedewasaan iman. Semakin sempit cara orang memahami
agamanya, semakin besar pula potensi konflik yang muncul.
Kerukunan sejati tidak
berarti meniadakan perbedaan, tetapi menerima perbedaan sebagai bagian dari
kehendak Allah. Seperti tertulis dalam Roma 12:18, “Sedapat-dapatnya, kalau hal
itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” Ayat ini
menegaskan bahwa damai bukan hasil keseragaman, melainkan sikap batin yang
menghormati keberagaman.
Transformasi Pemahaman Keagamaan
Agar
agama kembali menjadi sumber kerukunan, dibutuhkan transformasi dalam cara
beriman:
1. Dari eksklusif menuju
inklusif. Iman sejati tidak menolak
perbedaan, tetapi menghormatinya sebagai ruang dialog dan saling belajar.
2. Dari ritual menuju
spiritualitas. Agama tidak berhenti pada
simbol dan upacara, melainkan diwujudkan dalam perilaku kasih dan keadilan
sosial.
3. Dari doktrin menuju dialog. Teologi harus
membuka ruang percakapan lintas iman yang berorientasi pada kemanusiaan
universal.
Transformasi semacam ini
akan mengembalikan agama pada fungsi aslinya: menuntun manusia kepada kedamaian
yang sejati.
Kesimpulan
Agama
bukan penyebab kerusuhan, melainkan cermin dari kondisi moral penganutnya.
Ketika manusia memperlakukan agama sebagai alat pembeda dan pembenaran diri,
maka kerukunan akan rusak. Namun ketika agama dihidupi dalam semangat kasih,
pengampunan, dan keadilan, maka ia menjadi kekuatan pemersatu yang luar biasa.
Dengan demikian, tugas
setiap pemeluk agama bukan hanya mempertahankan kemurnian doktrin, melainkan
menghadirkan nilai-nilai ilahi di tengah masyarakat majemuk. Agama yang sejati
bukan yang menonjolkan perbedaan, melainkan yang menghadirkan kasih Tuhan dalam
kehidupan bersama.
Daftar Pustaka :
* Durkheim, Émile. *The Elementary
Forms of Religious Life*. London: Allen & Unwin, 1915.
* Berger, Peter L. *The Sacred Canopy:
Elements of a Sociological Theory of Religion*. New York: Anchor Books, 1967.
* Alkitab Terjemahan Baru. Lembaga
Alkitab Indonesia, 2009.
* Komaruddin Hidayat. *Agama Punya
Seribu Wajah*. Jakarta: Paramadina, 2000.
Komentar
Posting Komentar